Part 1. Allah Ada dan Bekerja Saat Bencana

Sekretariat Diaspora -
Sab, 11 Sep 2021 | 20:45 (4 tahun yang lalu)

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Roma 8:28

Seringkali pengkhotbah atau gereja mengatakan bahwa Allah menyediakan masa depan yang penuh harapan bagi umat-Nya dan kalimat tersebut terdapat dalam Alkitab (band. Yer 29:11; Amsl 23:18). Namun, realitas kehidupan yang dialami manusia sangat berbeda dengan pernyataan tersebut, secara khususnya pada masa sekarang dimana kita sedang bergumul dengan berbagai macam persoalan, seperti covid-19 dan persoalan-persoalan lainnya. Masa depan yang dimaksudkan seakan-akan hanyalah mimpi atau sebatas pernyataan, sehingga terkadang membuat manusia bertanya-tanya. Dimana Allah?, Apakah Allah benar-benar ada?. Jika Allah ada lalu kenapa kita harus mengalami persoalan semacam ini, bukankah Allah itu maha kuasa?, bahkan ada juga pengkhotbah yang menyatakan bahwa bencana ini terjadi karena dosa. Bukankah Tuhan Yesus mati untuk menebus dosa manusia?, apakah orang yang berada di daratan tinggai dan tidak mengalami bencana seperti banjir mereka tidak berdosa?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah pertanyaan yang baru muncul saat ini. Pertanyaan tersebut sudah digumuli oleh manusia sekian abad. Bahkan ada orang yang mencari jawaban dengan menggunakan akal dan tidak menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut sehingga pada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa Allah tidak ada. Sebelum kita membahas tentang Allah yang bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya, maka perlu kita membahas dahulu apakah Allah ada atau tidak?

Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut, maka tidak akan kita temukan kalau hanya menggunakan akal. Sangat sulit bagi manusia yang terbatas (fana) untuk menjangkau Dia yang tak terbatas (kekal). Anselmus mengatakan bahwa “aku percaya supaya aku mengerti dan bukan aku mengerti supaya aku percaya”. Maksud dari Anselmus ialah iman harus mendahului pengertian atau percaya dahulu baru mengerti, karena saat beriman maka Roh Kudus diberikan sehingga pikiran dicerahkan dan barulah dapat mengerti, itu pun mengerti dari Alkitab. Alkitab mengatakan bahwa kita harus menerima fakta bahwa Allah itu ada (iman). Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa “Allah ada”… (band. Ibrani 11:6).

Sebagai orang Kristen yang beriman bahwa Yesus adalah Allah Anak, maka kita juga harus percaya setiap perkataan-Nya.  Yesus Kristus berkata kepada Filipus: barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa (Yoh. 14:9). Perkataan Tuhan Yesus tersebut tidak bermakna biologis atau tidak berarti bahwa wajah Allah Bapa sama dengan wajah Yesus Kristus. Hubungan antara Bapa dan Yesus Kristus begitu mulia sehinggah tidak terjangkau oleh akal manusia. Semua orang yang melihat Kristus dengan iman telah melihat Bapa didalam Dia. Selain itu, anugerah Allah tampak dalam semua perbuatan anugerah yang dilakukan oleh Kristus, melalui mujizat-mujizat mereka telah melihat Allah yang mahakuasa dan didalam pengajaran Kristus mereka melihat Bapa sebagai segala terang.  Kristus juga mengatakan kepada Thomas: Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya'" (Yohanes 20:29). Hal ini tidak berarti bahwa sama sekali tidak ada bukti tentang keberadaan Allah.

Alkitab mengatakan, "Langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya, hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar, tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi" (Mazmur 19:1-4a). Maksudnya ialah ketika manusia melihat bintang-bintang, memperhatikan luasnya alam semesta mendatangkan, mengamati keajaiban alam, melihat keindahan matahari terbenam maka semuanya ini menunjuk kepada Allah Sang Pencipta atau membuktikan bahwa Allah ada. Allah bukan hanya sekadar ada tanpa melakukan apa-apa atau nonton manusia yang sedang menderita. Dengan kata lain, Allah tidak membiarkan manusia untuk bergumul sendiri, melainkan Dia bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya.

Seperti yang dikatakan oleh Paulus kepada Jemaat di Roma 8:28. Tujuan penulisan Paulus berdasarkan Roma 8:28 ialah untuk menguatkan jemaat atau orang Kristen yang mengalami penderitaan di Roma, karena pada saat itu Kaisar menyebut dirinya sebagai Tuhan. Jadi, orang Kristen yang tidak mengakuinya sebagai Tuhan akan dihukum dan masih banyak penderitaan yang mereka alami. Supaya lebih memahami maksud Paulus dalam Rom. 8:28 maka kita akan melihat terjemahan aslinya.

Berdasarka terjemahan:

LAI:     Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

AYT:    Kita tahu bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk, kebaikbabagi mereka yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang dipanggil sesuai rencana Allah.

 TL: Tetapi kita mengetahui, bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama mendatangkan kebajikan bagi orang yang mengasihi Allah, yaitu bagi orang yang dipanggil menurut kehendak Allah.

AVB:   Dan kita tahu bahawa dalam semua hal Allah bekerja untuk kebaikan orang yang mengasihi-Nya, yang telah dipanggil menurut rancangan-Nya.


Ada tiga hal yang perlu kita perbaiki dari terjemahan LAI:

1.      Kata “sekarang” dalam kita LAI seharusnya tidak ada

2.      Kata-kata “turut bekerja” seharusnya ialah bekerja sama

3.      Kata “terpanggil” seharusnya ialah dipanggil

Dengan demikain, dapat dikatakan bahwa, kita tahu bahwa segala sesuatu Allah bekerja sama untuk kebaikan mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang dipanggil sesuai rencana-Nya.

Kata-kata “segala sesuatu Allah bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan”, Pulpit Commentary mengatakan bahwa segala sesuatu yang dimaksudkan ialah segala sesuatu yang termasuk dalam rencana Allah, termasuk hal-hal yang kelihatannya merupakan bencana yang dibiarkan-Nya menimpah kita, pasti akhirnya melayani/ memajukan rencana-Nya dan merupakan pemenuhan harapan kita.  William Hendriksen juga mengatakan hal yang sama bahwa, segala sesuatu-bekerja sama untuk kebaikan: bukan hanya kemakmuran yang termasuk tetapi juga kesengsaraan atau kemalangan, bukan hanya sukacita dan kebahagiaan tetapi juga penderitaan dan kesedihan. Rencana jahat dikuasai dan dipengaruhi oleh Allah untuk kebaikan. Maksudnya ialah orang lain dipakai oleh Allah untuk melakukan hal jahat kepada kita untuk kebaikan kita seperti, kisah Yusuf, dimana saudara-saudaranya dipakai oleh Alllah untuk menjual Yusuf dan pada akhirnya Yusuf menyelamatkan mereka dari kelaparan selama tujuh tahun dan lain sebagainya.

Calvin juga mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Hendriksen, dimana Calvin mengatakan: tetapi kita harus ingat bahwa disini Paulus berbicara hanya tentang kesengsaraan atau kemalangan, seakan-akan Paulus berkata bahwa segala sesuatu yang terjadi pada orang-orang kudus begitu dikuasai atau dipengaruhi oleh Allah, sehingga apa yang dianggap bencana oleh dunia, hasilnya menunjukkan bahwa itu adalah baik. Jadi, segala sesuatu atau semua hal tanpa terkecuali yang terjadi dalam kehidupan umat yang mengasihi Allah akan mendatangkan kebaikan. Dengan demikian,mungkin itu adalah bencana bagi manusi tapi kebaikan menurut Allah.

Bekerja sama maksudnya ialah  Allah tidak membiarkan orang yang mengasihi-Nya untuk berjalan sendiri atau bekerja sendiri. Jadi, syaratnya supaya Allah bekerja sama dengan kita ialah mengasihi Allah. Mengasihi Allah berarti harus mengasihi saudara atau orang-orang sekitar kita (band. 1 Yoh. 4:20). Kata-kata “yang dipanggil sesuai rencana Allah” maksudnya ialah orang-orang yang dipilih Allah (band. Rom. 8:29. part. 2 baru saya bahas secara terperinci terkait umat pilihan Allah).

IMPLIKASI

Barangkali sebagai manusia kita merasakan bahwa Allah tidak ada saat mengalami berbagai macam persoalan, seperti covid 19 dan persoalan lainnya. Namun, percayalah bahwa Allah ada dan tidak pernah meninggalkan kita sendiri atau bekerja sendiri. Sehebat apa pun badai atau persoalan hidup yang kita hadapi saat ini yakinlah bahwa Allah bersama kita adalah Allah yang maha kuasa, Allah yang hebat. Terkadang Allah ijinkan penderitaan terjadi supaya kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Allah memakai penderitaan tersebut untuk mendatangkan kebaikan. Allah pakai bencana seperti sakit penyakit supaya manusia mengenal Allah yang menyembuhkan, Allah ijinkan kesedihan terjadi supaya manusia mengenal Allah sebagai sumber penghibur, Allah ijinkan kekurangan terjadi supaya manusia mengenal Allah sebagai pemelihara, Allah ijinkan ketakutan dan bahaya supaya manusia mengenal Allah sebagai pengawal dan penjaga.

Barangkali hari ini, kita kehilangan keluarga atau meninggal karena terinfekesi virus covid 19, tetapi janganlah kita kehilangan harapan dalam kondisi semacam ini. Bukankah nyawa ini adalah milik Allah?, bukankah Allah berhak mengambilnya dengan cara apa pun?. Nyawa ini adalah milik Allah dan Allah berhak mengambil kembali dengan cara apa pun. Jadi, kita yang masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk menikmati hidup ini, marilah kita menikmati dalam hadirat Allah, kita nikmati hidup untuk kemuliaan nama Tuhan bukan untuk kita dipuji, kita nikmati hidup sesuai takaran Allah yaitu sesuai Firman-Nya dalam Alkitab dan tetaplah kita mengasihi Allah karena Allah sudah lebih dahulu mengasihi kita.

IMANUEL…Amin.

 By: Apriyanto Bora, S.Th

Catatan:

Part 1: Allah Ada dan Bekerja Saat Bencana

Part 2 : Umat Pilihan Allah Dari Semula

Part 3 : Bencana Karena Dosa?

2020-2022 © Gmit Diaspora Danau Ina Oesapa