HIDUP SEBAGAI SAUDARA SEIMAN

-
Sel, 02 Nov 2021 | 20:45 (2 tahun yang lalu)

Markus 3:35 "Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku"

Roma 15:1-13

Kata Saudara memiliki beberapa arti: dalam arti sempit, saudara adalah anggota keluarga (baik laki-laki/perempuan, dan juga yang lebih muda/ lebih tua), yang seibu atau se ayah (yang berupa orang tua kandung, tiri, atau angkat) dengan individu. Saudara yang lebih tua disebut kakak sedangkan yang lebih muda disebut adik. Dalam pengertian yang lebih luas, saudara bermakna sebagai sanak atau kerabat, yaitu orang yang dekat atau bertalian secara kekeluargaan dengan individu. Di lingkungan sosial, saudara bisa bermakna sebagai seseorang yang satu visi atau tujuan dengan individu, dalam suatu golongan atau kelompok yang merujuk pada sahabat dekat atau saudara seperjuangan. Dan dalam tradisi sendiri, saudara juga berlaku untuk menyebut seseorang yang dihormati secara formal.

Rasul Paulus menasehati jemaat di Roma, dengan menegaskan bahwa dasar kesatuan orang Kristen adalah saling menerima satu dengan yang lain, tanpa memandang latar belakangnya. Sebagai salah satu contoh yang dapat kita lihat ialah, Paulus memberikan gambaran tentang Allah yang selalu menerima kita, tanpa memandang latar belakang masing-masing, karena kita adalah satu keluarga Allah. Dalam menjalani kehidupan, kita tidak pernah dapat untuk memilih, kita harus terlahir dari keluarga mana, siapa yang harus menjadi keluarga kita dan sebagainya. karena keluarga adalah anugerah dari Tuhan. Dalam Injil Markus 3:35 “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku". Lantas pernyataan dari Yesus ini menunjukkan bahwa, sebutan saudara memiliki arti yang lebih luas, tidak terbatas pada hubungan darah, tetapi mencakup kehidupan beriman, yakni menjadi pelaku firman Tuhan. Kita menjadi saudara dan satu keluarga besar dalam Tuhan karena iman dan ketaatan kepada kehendak-Nya.

Dalam menjalin hubungan sebagai saudara seiman, kita seringkali diperhadap kan dengan berbagai masalah seperti, kesalahpahaman, perbedaan pendapat dan lainnya. Tetapi, satu hal yang perlu kita ingat bahwa, sekecil atau sebesar apapun itu masalah yang terjadi diantara kita, mereka tetaplah saudara kita. Janganlah kita menjauhi atau mengucilkan mereka. Namun, sebaliknya kita harus menerima, mengampuni, mengasihi serta mendoakan mereka. Demikianlah kita harus menjaga tali persaudaraan kita sebagai saudara seiman agar tetap utuh. Karena ketika kita meneladani sikap Kristus, yang dapat menerima setiap orang tanpa melihat latar belakangnya, sesungguhnya kita telah menjadi cermin kehidupan bagi sesama kita, yang melihat bahwa kita adalah anak-anak Allah. Sebab Allah menginginkan agar kita sebagai satu keluarga dapat saling menerima, mengampuni dan mengasihi sebagai saudara seiman di dalam kasih-Nya. Amin

 

                                                                                                

By: Hety Susar

2020-2022 © Gmit Diaspora Danau Ina Oesapa