RENUNGAN IBADAH RUMAH TANGGA MINGGU SENGSARA KE-IV
RENUNGAN
Kekasih-kekasih Tuhan, pernahkan kita mengucapkan kata sumpah? Saya yakin, beberapa di antara kita tentu pernah mengucapkan kata tersebut. Bahkan bagi beberapa anak muda, kata sumpah sering sekali diucapkan saat sedang bercerita dengan temannya. Kata sumpah sering dipakai oleh seseorang untuk meyakinkan orang lain, bahwa apa yang dikatakannya adalah benar dan bukanlah sebuah kebohongan. Akan tetapi, kita juga harus jujur bahwa terkadang kata sumpah dipakai oleh orang-orang tertentu untuk meyakinkan orang lain agar percaya pada kebohongan atau tipu muslihat.
Sebelum melanjutkan renungan ini, saya ingin masing-masing kita menjelaskan tentang apa yang kita pahami tentang sumpah (memberikan kesempatan bagi beberapa orang untuk menjelaskan pemahamannya tentang sumpah).
Kekasih-kekasih Tuhan, Kamus Besar Bahasa Indonsia menjelaskan 3 arti dari kata sumpah
1. Pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci untuk menguatkan kebenaran, kesungguhan dan sebagainya.
2. Pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenaran atau berani menderita kalau kebenaran itu tidak benar.
3. Janji atau ikrar yang teguh bahwa akan menunaikan sesuatu.
Dari 3 definisi tentang sumpah di dalam KBBI, kita bisa mengambil sebuah pernyataan bahwa sumpah bukanlah sebuah kata yang bisa diucapkan sembarangan dan tanpa pertanggungjawaban. Setiap orang yang mengucapkan sumpah, berarti ia sedang mempertaruhkan dirinya bahwa ia sedang bersaksi tentang kebenaran, sehingga bila ia berdusta atas sumpahnya, sesungguhnya ia telah melecehkan apa yang telah ia pertaruhkan, yaitu dirinya sendiri.
Mengerti akan beratnya sumpah dan seringnya manusia menggunakan sumpah untuk menguntungkan dirinya sendiri dan bukan untuk mempertontonkan kebenaran, Yesus mengeluarkan sebuah pernyataan yang tegas dan sangat sederhana yaitu kita tidak perlu kita bersumpah demi apapun. Kita hanya perlu berkata Ya pada apa yang benar dan Tidak pada apa yang salah. Kekasih, kekasih Tuhan, Firman Tuhan ini mengajarkan kepada kita 2 hal
1. Karena sumpah adalah sebuah pernyataan yang sakral, maka sumpah tidak boleh dipakai untuk bercanda dan berbohong, apalagi untuk kepentingan-kepentingan tertentu.
2. Pada dasarnya Sumpah dan ajaran Yesus tentang Jika ya, katakan ya, jika tidak katakan tidak sama-sama berbicara tentang kejujuran. Terkadang agar kita terlihat jujur, maka kita akan menyematkan kata sumpah dalam kalimat-kalimat kita dan di dalam firman saat ini, Yesus mengajarkan kepada kita mengenai sesuatu yang lebih sederhana, di mana kita tidak perlu bersumpah. Jika apa yang kita katakan atau ungkapkan merupakan sebuah kebenaran katakanlah YA dan jika salah, katakanlah TIDAK.
3. Dalam kehidupan sehari-hari, dan di dalam masa pandemi ini, kita cenderung tidak tegas dan tidak jujur pada apa yang sebenarnya salah. Hal tersebut terkadang disebabkan oleh rasa tidak enak atau perasaan. Dalam masa pandemi ini, masih saja ada orang-orang tertentu yang saling berjabatan tangan, bahkan cium hidung dan cipika-cipiki hanya oleh karena perasaan. Padahal secara sadar kita tahu bahwa hal tersebut merupakan pelanggaran pada protokol kesehatan dan akan membahayakan diri kita dan orang lain. Akan tetapi oleh karena PERASAAN kita rela masuk ke dalam bahaya tersebut. Kekasih-kekasih Tuhan, belajarlah dari Firman Tuhan saat ini, JIKA YA, KATAKAN YA, JIKA TIDAK KATAKAN TIDAK karena apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Amin.
SYALOM, SELAMAT BERIBADAH BERSAMA KELUARGA
By. Roni Lakapu
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-7691047964079992"
crossorigin="anonymous"></script>
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-7691047964079992"
crossorigin="anonymous"></script>