Pendidikan merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan manusia.
Isi Renungan
BERIMAN VS BERIMU: BENARKAH DEMIKIAN?
1 Tawarikh 22:2-19
Pendidikan merupakan salah satu sektor kehidupan yang terkena imbas covid-19. Pandemi ini menyebabkan aktifitas sekolah terhenti. Proses belajar mengajar tidak dapat terlaksana sebagaimana biasa. Ketika tatap muka di kelas harus dihentikan untuk menghindari pertemuan orang dalam jumlah banyak, sebagian anak bisa belajar online. Tidak demikian bagi siswa yang berada di luar jangkauan internet. Praktis semua bentuk pembelajaran tidak dapat berlangsung.
Sekolah GMIT tentu tidak luput dari pengaruh ini. Kondisinya yang selama ini sudah tertatih-tatih, harus mengalami lagi badai yang dahsyat. Namun kita bersyukur, di tengah badai itu Allah masih mengizinkan kita merayakan Bulan Pendidikan tahun ini. Karena itu kami ucapkan, "Selamat merayakannya."
Kiranya melalui perayaan ini, makin banyak doa dan dukungan dari seluruh jemaat GMIT bagi pelayanan pendidikan. Doa dan perhatian kita semua sangat bermanfaat bagi pelayanan pantang menyerah yang dipersembahkan Yapenkris dan para guru di seluruh pelosok GMIT. Tanpa biaya operasional dan honor yang memadai, mereka terus mempersembahkan karya terbaik bagi kemajuan pendidikan. Tidak banyak orang bisa melakukan pengorbanan seperti ini. Karena itu melalui kesempatan ini, kami juga ingin memberi penghargaan yang tinggi kepada Yapenkris, para guru dan semua pegawai yang melayani pendidikan GMIT.
Di bawah tema khotbah minggu ini, saya ingin memberi perhatian kepada relasi antara gereja dan sekolah. Mari kita gunakan kesempatan ini untuk memikirkan dan merumuskan secara serius dan jujur mengenai hal tersebut. Asumsi dasarnya begini: "Bila relasi gereja dan sekolah berlangsung sebagaimana mestinya, tentu pendidikan GMIT akan sangat maju." Berdasarkan asumsi ini, tiap orang dipersilahkan menilai sendiri, sejauh mana kualitas sekolah GMIT dan sejauhmana keterlibatan gereja dalam penyelenggaraan sekolah GMIT.
Penilaian kita ini harus dilakukan sejujur-jujurnya karena sekarang ini, paling kurang, ada 25 ribu anak yang sedang menempuh pendidikan di sekolah yang dikelola Yapenkris, baik itu SD, SMP maupun SMA. Ada begitu banyak anak-anak kita yang menggantungkan masa depannya di sekolah GMIT. Namun apakah sekolah-sekolah kita pantas menjadi tempat mereka berharap? Mampukah sekolah kita menjalankan peranannya dengan tepat? Dan bila bentuk perhatian gereja "masih seperti sekarang ini", bagaimana dengan masa depan puluhan ribu anak GMIT itu? Jujur, saya merinding saat mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini.
Penjelasan Teks
Guna melihat relasi antara iman dan ilmu, kita akan meninjau teks ini. Relasi itu nampak jelas dalam persiapan Daud untuk membangun bait Allah. Daud memberi tahu Salomo tentang keinginannya untuk membangun bait suci bagi kemuliaan Allah. Namun Allah lebih memilih Salomo sebagai pendirinya. Daud sama sekali tidak kecewa terhadap keputusan Tuhan. Ia memilih bentuk partisipasinya, yakni dengan melakukan persiapan yang diperlukan.
Teks bacaan kita mencatat bahwa Daud melakukan dua persiapan yang penting. Sementara persiapan materi dan sumber daya manusia dilakukan dengan sangat detail, Daud tidak lupa mempersiapkan sumber daya spiritual. Bagi Daud, kunci dari seluruh pembangunan itu adalah kepatuhan kepada perintah Tuhan, yang dilaksanakan dengan akal budi dan pengertian (ay. 12-13).
Ada gambaran yang indah mengenai interaksi timbal balik antara iman dan ilmu dalam membangun bait Allah. Penulis mencatat bahwa pembangunan bait Allah memerlukan sumbangan kepakaran dari berbagai bidang yang saling bekerjasama guna menghasilkan sesuatu bagi nama Tuhan. Tempat ibadah ini menjadi laboratorium yang ideal dimana berbagai disiplin ilmu, metodologi dan spesialisasi dapat disatukan untuk memahami pertemuan dua dimensi, manusia dan Tuhan, duniawi dan surgawi (Porzia and Bonnet, 2017). Interaksi sebaliknya adalah iman kepada Tuhan menyatukan para pekerja dari berbagai disiplin ilmu untuk berkarya bersama dengan kapasitas yang lebih memadai hingga menghasilkan suatu bangunan megah dan mulia. Bait Allah sebagai manifestasi kehadiran Tuhan di antara manusia, menegaskan pendekatan interdisipliner, yang mampu memadukan aspek iman dan ilmu, tanpa memisahkannya.
Relasi iman dan ilmu juga terlihat dari lokasi bait Allah. Alkitab mencatat bahwa Daud menempatkan lokasi Bait Allah dan istana berdekatan satu sama lain. Menurut Childe, hal itu adalah lumrah di zamannya. Pusat-pusat pemerintahan di kota sekitar Mesopotamia umumnya mencakup istana, kuil dan silo (Garfinkel and Mumcouglu. 2019:198). Dan itu berarti kekuatan politik, agama dan ekonomi semuanya terkonsentrasi di satu area. Maksud utamanya ialah agar semua bidang itu saling bekerja bersama bagi kebaikan manusia. Tidak ada pemisahan diantara mereka.
Aplikasi
Relasi Iman dan ilmu, kata Ian Barbour, tidak selalu berlangsung mulus. Pada ekstrim yang satu, relasi keduanya penuh dengan konflik. Kita dipaksa untuk memilih hanya satu diantaranya, entah iman atau ilmu, sebab menurut para penganutnya, mustahil orang bisa berpegang teguh pada keduanya secara bersamaan. Di ekstrim yang lain, iman dan ilmu dianggap independen satu sama lain. Keduanya punya prinsip dan aturan sendiri yang tak bisa digabungkan satu sama lain. Ilmu dengan metodologi ilmiahnya dan iman dengan batasannya sendiri. Dengan demikian dimungkinkan dialog dan integrasi diantara keduanya.
Berdasarkan empat pola relasi Barbour tsb, menurut hemat saya relasi antara gereja dan sekolah GMIT saat ini tergolong dalam model independen. Sekolah mengacuhkan gereja dan sebaliknya, gereja kurang peduli terhadap sekolah. Suara dari internal gereja mengatakan bahwa pengelola sekolah sama sekali tidak melibatkan gereja sebagai pendiri. Gereja hanya dilibatkan saat sekolah ingin mengumumkan penerimaan siswa baru melalui warta jemaat. Juga saat sekolah meminta dukungan gereja mengutus jemaatnya untuk bersekolah di sana.
Di lain pihak, sekolah juga menganggap gereja begitu sibuk dengan urusan klasik gereja seperti ibadah dan sakramen sehingga lupa memperhatikan sekolah. Bahkan perkembangan sekolah yang dekat dengan gereja tak pernah jadi agenda pembahasan dalam persidangan gereja. Tidak ada dialog dan integrasi antara sekolah dan gereja. Kalaupun ada, frekuensi dan bobotnya masih perlu ditingkatkan. Itulah sebabnya kompleksitas persoalan yang dialami sekolah GMIT hingga kini sulit teratasi.
Belakangan ini kita menyaksikan di mana-mana, nada kemarahan yang semakin keras ketika ada perbincangan mengenai mandat gereja di bidang pendidikan. Padahal kita sadar bahwa semua suara dan kemarahan itu tidak menghasilkan apa-apa jika peluang perubahan terlewatkan. Karena itu gereja perlu membangun komitmen baru terhadap pendidikan sebagai pelayanan dan dengan komitmen itu melangkah masuk ke dalam kekacauan ini untuk memulihkan keadaan.
Dunia mengakui peran gereja sebagai katalisator bagi lahirnya budaya literasi, aktif merintis pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi, serta menyediakan jalan bagi perkembangannya. Budaya Yunani dan Romawi memang lebih dahulu mengembangkan pendidikan. Tapi itu hanya untuk mendidik para elit. Gereja menyadari kekeliruan ini. Iman gereja yang menghargai setiap manusia secara setara, berupaya mendidik semua orang. Gereja mengembangkan pendidikan yang mencakup semua orang dari berbagai latar belakang, terutama non elit dan kaum miskin.
Demikian pula Luther. Ia tidak hanya mengembangkan reformasi di jantung iman kristen, tapi juga di jantung pendidikan. Ia menganjurkan reformasi pendidikan yang hanya terlindung dalam biara-biara. Ia juga menyerukan kepada kaum aristokrat Jerman bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih baik bagi gereja dan kaisar daripada reformasi menyeluruh terhadap universitas-universitas.
Namun kini, gereja justru telah kehilangan pengaruhnya dalam pendidikan dan telah bergeser ke pinggiran. Kesadaran ini mendorong kita untuk mempertimbangkan perlunya upaya mereformasi pendidikan sebagai tugas gereja yang maha penting.
Allah kita adalah Allah kolaborarif. Ia adalah Allah yang "tidak pernah membiarkan kita sendirian", juga tidak pernah mengatakan "serahkan semua padaKu". Ia selalu mengundang kita ke dalam kolaborasi untuk menjalani hidup kita, terutama saat menghadapi kesulitan. Allah tidak pernah berjanji bahwa sekolah GMIT akan baik-baik saja, melainkan Ia akan berdiri di samping mereka, membantu mereka melewatinya. Kita tidak hanya membutuhkan ilmu pengetahuan, tapi juga iman untuk sekolah kita yang menderita. SEKOLAH BOLEH DARURAT, TAPI IMAN DAN SEMANGAT TIDAK BOLEH DARURAT.
Klik untuk mengubah...