Terima atau Kasih?

Sekretariat Diaspora -
Rab, 15 Sep 2021 | 07:35 (4 tahun yang lalu)

Pemberi yang baik adalah pemberi yang mempertimbangkan segala sesuatu dengan baik

2 Korintus 9:6-15

(Ilustrasi)

Ada 2 orang pemuda yang melakukan perjalanan ke luar daerah, dan tibalah mereka di sebuah kerajaan. Karena mereka merupakan orang asing, maka sesuai dengan tradisi di kerajaan tersebut, mereka di panggil untuk menghadap raja sekaligus mereka langsung di perhadapkan dua pilihan. Pilihannya ialah mereka diberikan tawaran yaitu, pertama “terima” kedua “kasih”. Di akhir dari pilihan kedua pemuda itu, raja langsung menyuruh salah satu pejabat dalam kerajaan untuk mengantarkan mereka pada pekerajaan sesuai dengan pilihan masing-masing. Pemuda A pekerjaannya menjadi seorang pengemis yang duduk di pinggir jalan sambil meminta-minta dan si B pekerjaannya menjadi seorang yang kaya raya dan selalu berbagi sesuai dengan pilihannya yaitu memberi.

Dalam kehidupan kita sebagai orang-orang kristen, seringkali kita dihadapkan dengan berbagai macam pilihan. Dan tidak jarang pilihan-pilihan tersebut membuat kita dilema dan terkadang tanpa pertimbangan, kita memilih tawaran yang menurut kita paling bagus. Tapi,  entah sadar atau tidak sadar, tawaran yang kita pilih dapat menyakiti hati sesama kita, mengorbankan orang lain bahkan pilihan itu juga dapat mengahancurkan kita.

Paulus menjelaskan bahwa orang yang memberi dengan sukacita akan mendapatkan banyak berkat. Walaupun begitu, seorang pemberi yang baik adalah pemberi yang mempertimbangkan segala sesuatu dengan baik. Karena memberi dengan pertimbangan yang baik akan mendorong si pemberi agar dapat memberi lebih. Pertimbangan yang baik maksudnya ialah, si pemberi harus tahu keadaannya seperti apa dan harus tahu juga orang yang ingin dibantu keadaannya seperti apa.  Sehingga ketika ia hendak memberikan sesuatu, itu akan benar-benar menjadi berkat. Selain itu, memberi dengan pertimbangan yang baik juga akan menolong kita agar pemberian kita tepat sasaran.

Dalam menjalani kehidupan ini, untuk menjadi berkat bagi sesama kita tidak perlu menjadi orang yang luar biasa dulu. Cukup dengan apa yang kita punya. Misalnya, dengan memberikan senyum ke orang-orang yang ada di sekitar kita, selalu ada bersama orang-orang yang susah dan masih banyak lagi hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan. Apakah kita masih punya alasan untuk tidak memberi? Sedangkan semua itu ada pada kita. Ketika kita hendak memberikan sesuatu kepada sesama, maka kita harus memberi dengan motivasi karena Tuhan telah lebih dahulu memberikan segala sesuatu kepada kita. Bukan supaya kita dipuji oleh sesama kita. Sekarang pilihan ada pada diri kita masing-masing. Mau terima atau kasih,  mau kasih setelah terima, atau mau terima setelah kasih. Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk memahami firman-Nya.

By: Heti Bernadita Susar

2020-2022 © Gmit Diaspora Danau Ina Oesapa